TVRINews – Kota Banjarbaru
Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap pekat membuat aktivitas belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, harus disesuaikan. Sejumlah langkah dilakukan untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak, mulai dari perubahan jam belajar hingga pengalihan kegiatan luar ruangan ke dalam ruangan.
Kementerian Sosial juga menyalurkan bantuan suplemen dan masker untuk mendukung kesehatan anak-anak agar kegiatan belajar tetap berjalan di tengah kondisi kabut asap.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru, Rifki Hakim, mengatakan penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan risiko paparan asap terhadap para siswa.
“Penyesuaian dilakukan pada jam belajar dan kegiatan luar ruangan yang dialihkan ke dalam ruangan. Selain itu, Kementerian Sosial memberikan tambahan suplemen dan bantuan sarana pendukung, seperti masker, agar kegiatan belajar tetap berjalan di tengah bencana kabut asap,” jelas Rifki, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Selain membatasi aktivitas di luar ruangan, pihak sekolah juga mengubah jadwal kegiatan belajar. Jam masuk yang semula lebih awal diundur menjadi pukul 09.00, ketika kabut asap mulai terangkat. Sementara itu, jam pulang dipercepat menjadi pukul 15.00 untuk mengantisipasi kabut asap yang kembali turun.
Dari sisi kesehatan, layanan medis disiagakan melalui klinik balai yang bekerja sama dengan puskesmas setempat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan anak-anak tetap terpantau selama kabut asap masih berdampak pada lingkungan sekolah.
Meski terdapat beberapa anak dengan riwayat penyakit bawaan, seperti asma, hingga saat ini belum ada siswa yang memerlukan perawatan inap. Penanganan terhadap anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan masih dilakukan melalui rawat jalan.
Pihak sekolah terus menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi lingkungan serta mengutamakan kesehatan dan keselamatan siswa selama kabut asap akibat karhutla masih terjadi.










