TVRINews, Banjarbaru
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mendorong pemanfaatan bus listrik pada layanan Trans Banjarbakula sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) sekaligus meningkatkan efisiensi transportasi publik.
Uji coba bus listrik tersebut dilakukan di tengah kendala pasokan BBM yang dialami operator transportasi. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk mencari alternatif energi yang dapat menunjang keberlangsungan operasional layanan bus.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Selatan, M. Fitri Hernadi, mengatakan uji coba bus listrik dilakukan atas permintaan pemerintah provinsi, termasuk Gubernur Kalimantan Selatan dan Komisi III DPRD.
“Kita lihat di Kalsel juga, antrean BBM mengular dan teman-teman operator kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk operasional bus. Kemudian, kita dimintakan oleh pemerintah provinsi, Pak Gubernur dan Komisi III DPRD, untuk mencoba bus listrik,” jelas Fitri dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Menurutnya, hasil awal uji coba menunjukkan bus listrik cukup nyaman digunakan dan berpotensi menghemat biaya energi. Pemerintah daerah berharap uji coba tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan penggantian armada secara bertahap.
“Ternyata, bus listrik lumayan nyaman dan hemat. Mudah-mudahan uji coba ini menghasilkan rekomendasi mengenai berapa banyak lagi armada yang bisa kita ganti sehingga tidak ada lagi kesulitan BBM,” ujarnya.
Meski demikian, Fitri mengakui penerapan teknologi bus listrik masih memerlukan kajian lebih lanjut. Pemerintah daerah juga melakukan studi banding atau benchmarking ke sejumlah daerah di Pulau Jawa yang telah lebih dahulu mengoperasikan bus listrik.
“Tentu, teknologi ini masih belum teruji karena kita juga melakukan benchmarking ke Jawa yang sudah menggunakan bus listrik. Mudah-mudahan ini makin berkembang,” tambahnya.
Untuk memastikan pemanfaatan bus listrik dapat berjalan optimal dalam jangka panjang, diperlukan perencanaan yang matang, mulai dari pemeliharaan armada, ketersediaan fasilitas pengisian daya, hingga pengaturan jadwal dan rute perjalanan.
Ketersediaan stasiun pengisian daya yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kelancaran operasional bus listrik tanpa mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
Selain itu, penambahan armada perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan penumpang dan kemampuan anggaran. Evaluasi berkala terhadap kinerja armada, konsumsi energi, biaya operasional, serta ketepatan waktu layanan juga diperlukan untuk mengukur efektivitas penerapan teknologi tersebut.
Dalam jangka panjang, pengembangan Trans Banjarbakula berbasis listrik diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap BBM, tetapi juga membantu menekan polusi udara dan mendukung terciptanya sistem mobilitas perkotaan yang lebih berkelanjutan.
Sinergi antara pemerintah daerah, operator transportasi, penyedia infrastruktur, dan masyarakat menjadi faktor penting agar transformasi transportasi publik tersebut dapat berjalan secara optimal dan memberikan manfaat berkelanjutan.










