TVRINews, Banjarbaru
Upaya pemadaman kebakaran lahan gambut di kawasan Awang Peramuan, Landasan Ulin Tengah, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dilakukan dengan metode berbeda. Petugas menggunakan cairan Methyl Ester Sulfonate atau MES untuk memadamkan bara api yang masih bertahan jauh di bawah permukaan tanah.
Kebakaran lahan gambut di kawasan tersebut menjadi tantangan bagi petugas karena api tidak hanya berada di permukaan. Meski kobaran api telah padam, bara masih ditemukan hingga kedalaman lebih dari dua meter dan terus mengeluarkan asap.
Polda Kalimantan Selatan kemudian mengaplikasikan cairan MES yang dikembangkan melalui laboratorium forensik. Cairan tersebut disuntikkan langsung ke titik-titik bara di bawah permukaan gambut.
Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, yang turut meninjau proses pemadaman, menyebut metode tersebut menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan menggunakan drone thermal, suhu di titik yang sebelumnya mencapai sekitar 120 derajat Celsius turun menjadi sekitar 30 derajat Celsius setelah dilakukan penanganan.
Muhidin mengatakan metode tersebut diharapkan dapat mengurangi asap sekaligus menghemat penggunaan air dalam proses pemadaman lahan gambut.
“Dengan metode ini kita memerlukan air banyak, itu juga yang perlu kita perhatikan. Dengan cara ini, mudah-mudahan asap akan berkurang. Dengan metode ini tadi malam kita lihat asap mulai berkurang,” jelas Muhidin.
Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan, mengatakan penggunaan cairan MES ditujukan untuk memutus suplai oksigen pada bara yang berada di dalam tanah sehingga proses pembakaran dapat dihentikan.
Menurut Rosyanto, petugas gabungan sebelumnya telah melakukan pemadaman selama sekitar dua pekan. Namun, asap masih terus muncul karena bara api berada di bawah permukaan gambut.
“Tadi malam kita mencoba ke lokasi ini. Malam hari terlihat di bawah tanah api masih membara. Sudah dua minggu anggota kita, baik dari Polri, TNI, maupun BPBD, memadamkan di sini, namun asapnya masih keluar,” kata Rosyanto, Rabu (2/9/2026).
Setelah dilakukan uji coba menggunakan cairan MES, kondisi titik kebakaran menunjukkan perubahan. Rosyanto berharap teknologi tersebut dapat dikembangkan dan digunakan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Kalimantan Selatan.
“Kita coba aplikasikan inovasi yang dikerjakan dari Labfor. Alhamdulillah, hari ini cukup efektif. Ini akan kita perbanyak dan mudah-mudahan dapat mengurangi bahkan menghilangkan asap yang ada di Kalsel akibat kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Keberhasilan uji coba tersebut mendorong Polda dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk mempertimbangkan penggunaan cairan MES dalam operasi Satgas Darat, khususnya pada lokasi yang memiliki karakteristik lahan gambut.
Bidlabfor Polda Kalimantan Selatan memastikan cairan yang digunakan telah melalui kajian dan tidak ditujukan untuk merusak tanah maupun ekosistem di sekitar lokasi.
Penggunaan metode ini diharapkan dapat mempercepat penanganan karhutla di lahan gambut, terutama untuk mengatasi bara api yang sulit dijangkau dari permukaan.










