TVRINews, Banjarmasin
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA di Kalimantan Selatan meningkat seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan, jumlah kasus ISPA yang sebelumnya rata-rata mencapai sekitar 5.000 kasus dalam sepekan, kini meningkat menjadi sekitar 7.000 kasus per pekan. Kondisi tersebut dinilai perlu diikuti dengan penguatan mitigasi kesehatan, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak kabut asap.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Meldy Muzada Elfa, Sp.PD, FINASIM, mengatakan penanganan dampak kesehatan perlu berjalan beriringan dengan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, pemerintah perlu memiliki sistem peringatan dini yang tidak hanya digunakan untuk memantau potensi kebakaran, tetapi juga mendeteksi risiko kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
“Kenapa kita tidak berpikir adanya early warning system. Jadi early warning system-nya adalah untuk kabut asap yang nanti akan berdampak kepada kelompok yang rentan. Saya berbicaranya bukan early warning system terhadap sistem kebakarannya, tetapi early warning system terhadap kesehatan yang berdampaknya tersebut,” jelas dr. Meldy, dikutip, Kamis, 3 September 2026.
Menurut dr. Meldy, sistem tersebut dapat menggunakan sejumlah indikator untuk menentukan tingkat risiko kesehatan masyarakat.
Salah satunya dengan memantau konsentrasi partikulat halus PM2,5 di udara. Selain itu, peningkatan jumlah titik panas atau hotspot serta kenaikan kunjungan pasien dengan keluhan gangguan pernapasan juga dapat menjadi indikator.
“Indikatornya yang pertama melihat apakah partikulat halus PM 2,5 meningkat atau tidak. Kemudian indikator kedua titik hotspot meningkat, ditambah indikator ketiga laporan kunjungan pasien dengan keluhan pernapasan,” ujarnya.
Selain sistem peringatan dini, fasilitas perlindungan kesehatan bagi masyarakat juga dinilai perlu disiapkan ketika kualitas udara memburuk.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyediakan shelter atau ruangan dengan udara bersih di kawasan permukiman. Fasilitas tersebut dapat menjadi tempat sementara bagi masyarakat, terutama kelompok rentan, ketika paparan kabut asap meningkat.
Dukungan layanan medis darurat juga dinilai penting. Armada yang dilengkapi bantuan oksigen dapat disiagakan untuk memberikan pertolongan awal kepada warga yang mengalami gangguan pernapasan, khususnya sesak napas berat.
Penguatan mitigasi kesehatan diharapkan dapat menekan dampak paparan kabut asap, sembari penanganan kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.
Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika paparan asap berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.










