TVRINews, Banjarmasin
Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat di tengah paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diwujudkan melalui kehadiran Rumah Aman Asap di Puskesmas Pemurus Dalam, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Fasilitas ini diinisiasi oleh mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama para relawan sebagai upaya melindungi masyarakat dari dampak polusi udara.
Rumah Aman Asap diharapkan menjadi ruang perlindungan bagi warga yang terdampak kabut asap, khususnya kelompok rentan, seperti bayi, balita, dan lanjut usia. Kehadiran fasilitas ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelayanan kesehatan bagi masyarakat di tengah kondisi udara yang kurang baik.
Ketua BEM Universitas Indonesia, Yatalathof Ma’shum Imawan, mengatakan bahwa inisiatif tersebut dilatarbelakangi risiko paparan udara tercemar yang dapat mengancam kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
“Dalam kondisi seperti ini, masyarakat terus menghadapi risiko menghirup udara tercemar, terutama bayi, balita, dan lansia. Karena itu, kami menghadirkan Rumah Aman Asap di Puskesmas Pemurus Dalam agar fasilitas publik ini dapat dimanfaatkan sebagai ruang perlindungan bagi warga yang terdampak polusi akibat karhutla,” ujar Yatalathof, Rabu, 14 Oktober 2026.
Kehadiran Rumah Aman Asap mendapat sambutan positif dari pihak Puskesmas Pemurus Dalam. Pasalnya, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah Banjarmasin Selatan dilaporkan mengalami peningkatan. Sepanjang September 2026, puskesmas tersebut mencatat lebih dari 100 pasien ISPA.
Kepala Puskesmas Pemurus Dalam Banjarmasin, H. Rony, S.Farm., Apt., M.M., menilai fasilitas tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperluas perlindungan kesehatan masyarakat di tengah dampak kabut asap.
“Ini merupakan proyek percontohan pertama di Kota Banjarmasin. Kami berharap fasilitas serupa dapat dibangun di puskesmas lain, setidaknya satu di setiap kecamatan, apabila dukungan bantuan masih tersedia,” kata Rony.
Ia menjelaskan, wilayah perbatasan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar juga menjadi kawasan yang terdampak kabut asap. Namun, untuk tahap awal, pihaknya memprioritaskan penanganan di wilayah terdekat sebelum memperluas jangkauan program.
“Untuk saat ini, kami memprioritaskan wilayah terdekat terlebih dahulu. Jika memungkinkan, kami akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Dinas Kesehatan agar fasilitas serupa dapat dikembangkan di wilayah lain,” ujarnya.
Melalui kolaborasi mahasiswa dan relawan ini, Rumah Aman Asap diharapkan dapat membantu meningkatkan perlindungan kesehatan warga sekaligus mendorong perhatian lebih besar terhadap dampak karhutla.
Upaya tersebut juga menjadi pengingat bahwa penanganan kabut asap tidak hanya berfokus pada pengendalian kebakaran, tetapi perlu disertai langkah perlindungan kesehatan masyarakat. Sinergi pemerintah, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan relawan diharapkan dapat memperkuat respons terhadap dampak polusi udara di Kalimantan Selatan.










