TVRINews, Banjarbaru
Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat adanya lonjakan kasus ISPA. Pada minggu ke-30, angka kasus telah menembus lebih dari 1.000 kasus, meningkat tajam dibandingkan minggu sebelumnya yang tercatat sebanyak 870 kasus.
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Siti Ningsih, mengatakan kasus ISPA mulai meningkat seiring maraknya karhutla sejak bulan Juli lalu. Gejala awal yang banyak ditemukan berupa batuk dan pilek, yang dapat berkembang menjadi sakit tenggorokan hingga demam.
“Untuk kasus ISPA terbaru pada minggu ke-30 sudah berada di angka lebih dari 1.000 kasus. Sebelumnya tercatat sekitar 870 kasus, dan minggu sebelumnya lagi sekitar 700 kasus. Kelompok yang paling rentan terdampak adalah anak-anak dan lansia. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah saat kabut asap terjadi. Gejalanya biasanya diawali batuk dan pilek, kemudian dapat berkembang menjadi sakit tenggorokan hingga demam. Kondisi ini dapat dicegah dengan menjaga daya tahan tubuh,” ujar Siti, Selasa, 18 Agustus 2026
Salah seorang warga Landasan Ulin Timur, Arbani, mengaku mulai merasakan dampak kabut asap dalam beberapa pekan terakhir. Bau asap dan kabut pada pagi hari membuatnya mengalami gangguan pernapasan sehingga harus menggunakan masker saat beraktivitas.
"Saya datang untuk berobat karena kadang-kadang merasa sesak napas. Sekarang saya selalu membawa dan menggunakan masker. Apalagi saat pagi hari kabut asap cukup terasa, kadang-kadang juga membuat mata perih dan kurang nyaman saat beraktivitas," ujar Arbani.
Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah, selalu menggunakan masker saat bepergian, serta menjaga daya tahan tubuh agar terhindar dari gangguan kesehatan.










