TVRINews, Kalimantan Selatan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan mencatat sebanyak 17 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 11 Agustus 2026. Total luas lahan yang terbakar mencapai 29,7 hektare.
Data tersebut berdasarkan catatan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Balangan yang dikutip pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Kasus karhutla tersebar di sejumlah kecamatan. Kecamatan Lampihong menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni tujuh kasus.
Sementara itu, Kecamatan Batumandi, Paringin Selatan, Paringin, dan Halong masing-masing mencatat dua kejadian. Sedangkan Kecamatan Juai dan Tebing Tinggi masing-masing mencatat satu kasus.
Selain memetakan kejadian karhutla, BPBD Balangan juga mengidentifikasi sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau.
Kecamatan Batumandi tercatat memiliki titik potensi kekeringan terbanyak, yakni sembilan titik. Kemudian Halong tujuh titik, Paringin Selatan dan Juai masing-masing empat titik, Awayan dua titik, serta Paringin satu titik.
Kepala Pelaksana BPBD Balangan, Rahmi, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan.
Langkah tersebut meliputi penyebarluasan informasi melalui media massa dan media sosial, pemasangan spanduk imbauan di 12 titik yang tersebar di delapan kecamatan, serta penguatan peran kelompok masyarakat dalam pencegahan karhutla.
“Kita mengimbau sesuai ketentuan agar masyarakat berhati-hati dalam melakukan kegiatan bertani dan bercocok tanam. Hindari melakukan pembakaran, sekecil apa pun, termasuk pembakaran sampah. Jika melakukan pembakaran, harus dipastikan api benar-benar aman dan tidak membahayakan,”kata Rahmi.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Damanik, mengatakan Kabupaten Balangan secara keseluruhan telah memasuki musim kemarau. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada September 2026.
Menurut Damanik, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih lama dari kondisi normal, yakni hingga Oktober 2026. Kondisi kemarau juga diperkirakan lebih kering akibat pengaruh El Nino yang masih cukup kuat.
“Kita perkirakan musim kemarau berlangsung sampai bulan Oktober. Bahkan, El Nino bisa berlanjut hingga awal tahun 2027. Kondisi ini kemungkinan juga akan memengaruhi musim hujan, sehingga curah hujan pada awal musim hujan diperkirakan sedikit berkurang,”ungkap Damanik.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, BPBD Kabupaten Balangan menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan serta Kekeringan di Aula Benteng Tundakan.
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka Wakil Bupati Balangan, Akhmad Fauzi, dan diikuti unsur terkait dalam penanganan kebencanaan.
Rapat koordinasi menjadi salah satu langkah pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapan menghadapi musim kemarau dan potensi dampak El Nino yang dapat meningkatkan risiko karhutla serta kekeringan di wilayah Balangan.
Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan selama musim kemarau.










