TVRINews, Banjarmasin
Pancasila menjadi dasar yang menyatukan masyarakat Indonesia yang hidup dalam keberagaman agama, suku, dan budaya. Namun, dalam perkembangannya, perbedaan tersebut tidak selalu dikelola sebagai kekuatan.
Guru Besar Emeritus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (FKIP ULM), Prof. M. P. Lambut, mengatakan nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat yang dahulu lebih kuat perlu kembali diingat dan diterapkan.
“Dulu ada 15 gereja dari berbagai aliran Kristen, ada Katolik dan non-Katolik. Tidak pernah terjadi bentrokan agama karena orang datang ke sini untuk mencari kehidupan. Berkelahi justru merusak kehidupan. Sekarang kita sudah kehilangan budaya dan banyak dipengaruhi budaya dari luar, sehingga agama dijadikan alat untuk bertentangan,” ujar Prof. M. P. Lambut pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurutnya, keberagaman seharusnya menjadi kekuatan dalam menjaga kehidupan bermasyarakat, bukan menjadi alasan untuk menimbulkan pertentangan.
Mahasiswa sebagai generasi muda juga memiliki tanggung jawab penting untuk melanjutkan nilai-nilai Pancasila, khususnya di tengah berbagai pengaruh global yang berpotensi menggeser nilai luhur bangsa.
Mahasiswa FKIP ULM, Shaufa dan Aca, menilai kesadaran masyarakat terhadap pentingnya Pancasila perlu terus ditingkatkan. Menurut mereka, Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa.
“Masyarakat harus menyadari pentingnya Pancasila sebagai dasar negara. Menurut saya, Hari Kesaktian Pancasila penting untuk dikenang karena tidak semua orang mengetahui perjuangan para pahlawan. Dengan adanya Hari Kesaktian Pancasila, kita kembali diingatkan bahwa para pahlawan telah berjuang untuk bangsa,” ujar Shaufa dan Aca.
Pada akhirnya, memahami Pancasila bukan hanya tentang menghafal lima sila, tetapi juga menjaga agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan. Keberagaman merupakan bagian dari Indonesia, sementara menjaga persatuan menjadi tanggung jawab bersama.










