TVRINews, Kabupaten Tapin
Keterbatasan ruang kelas menjadi tantangan utama di Pondok Pesantren Ibnu Salam yang berada di kawasan Pegunungan Meratus, Kabupaten Tapin. Di tengah meningkatnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di pesantren tersebut, fasilitas belajar belum mampu mengimbangi jumlah santri yang terus bertambah.
Pesantren yang dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan agama di wilayah pedalaman itu kini mengalami lonjakan santri baru. Kondisi tersebut membuat ruang kelas yang tersedia tidak lagi mencukupi kebutuhan kegiatan belajar mengajar.
Sesuai standar pembelajaran yang diterapkan, satu ruang kelas idealnya hanya diisi maksimal 15 santri agar proses belajar berjalan efektif. Namun, saat ini satu ruang kelas terpaksa menampung hingga 20 santri.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, pengelola pesantren juga memanfaatkan bangunan Majelis Taklim di sekitar lingkungan pesantren sebagai ruang belajar tambahan.
Pimpinan Pondok Pesantren Ibnu Salam, Ustadz Robi, menyampaikan saat ini pesantren hanya memiliki lima ruang kelas fisik, sementara kebutuhan ideal mencapai delapan ruang kelas.
“Kami saat ini mempunyai 5 kelas, padahal memerlukan 8 kelas. Masalahnya, satu orang pengajar itu memegang satu kelas karena kami mengajarkan metode Tilawati. Maksimalnya satu kelas itu hanya bisa diisi 15 orang, jadi kami masih kekurangan 3 ruangan lagi,” ujar Ustadz Robi, Jumat, 5 Juni 2026.
Kekurangan ruang kelas ini menjadi perhatian serius karena sistem pembelajaran di pesantren menggunakan metode khusus yang membutuhkan keseimbangan antara jumlah pengajar dan santri.
Meski berada di wilayah perbukitan Meratus, Pondok Pesantren Ibnu Salam memiliki peran penting sebagai pusat pendidikan moral dan keagamaan bagi masyarakat setempat. Keberadaannya menjadi salah satu pilihan utama orang tua untuk menitipkan anak dalam pendidikan agama.
Melihat kondisi tersebut, pihak pesantren berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Tapin serta dukungan para donatur. Tambahan tiga ruang kelas baru dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan optimal.










