TVRINews, Banjarbaru
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan semakin meluas. Luas lahan yang terbakar dilaporkan mencapai lebih dari 27 ribu hektare, dengan laju kebakaran hampir 120 hektare per hari.
Selain perluasan area terdampak, sebaran titik panas atau hotspot juga mulai bergeser.
Jika sebelumnya kebakaran lebih banyak terjadi di wilayah tengah dan selatan, kini titik panas terpantau bergerak ke wilayah barat, termasuk Kabupaten Barito Kuala dan kawasan Gambut di Kabupaten Banjar.
Kondisi vegetasi gambut yang mengering serta tiupan angin kencang diduga menjadi faktor yang mempercepat pergerakan api di sejumlah lokasi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, mengatakan pergeseran titik api menjadi perhatian dalam upaya penanggulangan karhutla saat ini.
“Saat ini terpantau bergeser ke wilayah barat, yaitu daerah Gambut, Pematang, dan Handil Bakti. Namun, wilayah sekitar bandara relatif cukup aman. Tahap awal penanggulangan sekarang kami fokuskan ke daerah Jalan Gubernur Syarkawi. Jika penanganan di sana selesai dalam satu minggu, kami akan bergeser ke titik lain,” ujar Ronny, Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurut Ronny, penanganan saat ini diprioritaskan di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi.
Tim gabungan diharapkan dapat menyelesaikan penanganan di lokasi tersebut dalam waktu sekitar satu minggu sebelum melanjutkan upaya pemadaman ke titik lain yang membutuhkan penanganan segera.
Pergeseran lokasi penanganan dilakukan untuk menyesuaikan perkembangan sebaran titik api dan kebutuhan di lapangan.
Kondisi lahan gambut yang mengering serta angin kencang menjadi tantangan dalam mengendalikan kebakaran agar tidak semakin meluas.
BPBD Kalsel terus memantau perkembangan karhutla, terutama di wilayah barat yang kini menunjukkan peningkatan perhatian dalam upaya penanggulangan.










