TVRINews, Banjarmasin
Kelangkaan bahan bakar solar mulai berdampak terhadap aktivitas pertanian di Sungai Lulut. Meski harga pupuk di tingkat distributor cenderung lebih murah dibandingkan tahun sebelumnya, tersendatnya distribusi akibat sulitnya memperoleh solar membuat harga pupuk di tingkat petani masih tinggi.
Saat ini, harga pupuk yang diterima petani berada di kisaran Rp105 ribu per sak. Selain itu, kenaikan harga solar juga memicu meningkatnya biaya operasional pertanian lainnya.
Ketua Kelompok Tani Sekeluarga, Ahmatsyah, mengatakan kesulitan mendapatkan solar membuat biaya pengangkutan ikut naik sehingga berdampak pada harga pupuk dan kebutuhan produksi pertanian lainnya.
“Sekarang aja kenaikannya. Naik itu kendalanya karena mencari solarnya agak sulit kata supir. Yang naik cuma harga pengangkutannya, kalau harga pupuknya agak turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Ahmatsyah, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya harga pupuk bahkan sempat mencapai Rp110 ribu hingga Rp115 ribu per sak. Namun saat ini meski harga dasar pupuk lebih rendah, biaya distribusi tetap membuat harga di tingkat petani belum turun signifikan.
Tidak hanya itu, kenaikan harga BBM juga berdampak pada biaya jasa pertanian. Tarif pembersihan lahan menggunakan traktor meningkat dari sebelumnya Rp25 ribu menjadi Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per borongan.
“Itu dampak dari BBM naik,” katanya.
Petani juga memperkirakan biaya penggunaan mesin panen atau combine harvester hingga jasa penggilingan padi akan ikut mengalami kenaikan dalam waktu dekat.
Para petani berharap pemerintah segera memberikan solusi terhadap kelangkaan solar agar biaya produksi pertanian tidak semakin memberatkan masyarakat tani.










