TVRINews, Banjarmasin
Ratusan kilogram ikan budidaya di keramba kawasan Banua Anyar, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mati diduga akibat menurunnya debit dan kualitas air Sungai Martapura selama musim kemarau. Kondisi tersebut menyebabkan para petambak mengalami kerugian hingga jutaan rupiah.
Salah seorang petambak, Salamiah, mengaku hanya bisa pasrah melihat ratusan ikan di keramba miliknya mati. Sejumlah ikan terlihat mengapung di permukaan air, bahkan sebagian telah membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Menurut Salamiah, total ikan yang mati diperkirakan mencapai sekitar 480 kilogram. Jenis ikan yang terdampak antara lain patin, toman, papuyu, dan bawal. Ia menilai kondisi tahun ini jauh lebih parah dibandingkan kejadian serupa pada musim kemarau sebelumnya.
“Sekitar 480 kilogram ikan, seperti patin, toman, papuyu, dan bawal, telah mati. Saya memperkirakan kerugian yang dialami mencapai sekitar Rp10 juta. Kematian ikan disebabkan oleh menurunnya debit air serta rendahnya kadar oksigen di dalam air,” ujar Salamiah.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Roslina, mengatakan kematian ikan tidak hanya terjadi di Banua Anyar, tetapi juga dialami petambak di berbagai wilayah Kota Banjarmasin. Namun, jumlah ikan yang mati berbeda-beda dan terjadi secara bertahap.
“penurunan debit air pada musim kemarau menyebabkan kualitas air ikut menurun, terutama kadar oksigen dan pH. Kondisi tersebut berdampak pada seluruh jenis ikan. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang didominasi kematian ikan bawal, kali ini kematian juga terjadi pada ikan patin, papuyu, dan toman,”Roslina.
Untuk mengurangi kerugian, DKP3 mengimbau para petambak melakukan panen lebih awal, mengatur pemberian pakan secara tepat, serta menjaga kepadatan ikan di dalam keramba. Selain itu, dinas terkait terus melakukan pemantauan dan pendampingan kepada para pembudidaya guna meminimalkan dampak kematian ikan selama musim kemarau.









