TVRINews, Tapin
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, mencatat sebanyak 1.335 titik panas (hotspot) di wilayah tersebut selama periode Mei hingga Juli 2026. Jumlah tersebut menunjukkan tren peningkatan yang signifikan setiap bulan seiring kondisi cuaca yang semakin kering.
Berdasarkan data BPBD, pada Mei terdeteksi 155 titik panas. Angka tersebut meningkat menjadi 404 titik pada Juni, kemudian kembali melonjak menjadi 776 titik pada Juli.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tapin, Muhammad Nor, mengatakan peningkatan jumlah titik panas terjadi secara konsisten dalam tiga bulan terakhir.
"Untuk kami sampaikan dalam kesempatan ini, untuk titik hotspot yang telah kami rekap sepanjang sampai dengan Juli 2026 itu ada sebanyak 1.335 titik hotspot. Itu kita pantau berada pada bulan Mei itu sebanyak 155, bulan Juni 404, dan bulan Juli sebanyak 776. Jadi kenaikannya memang rata-rata sekitar 300 ya, dari 155, 404-776. Jadi tiap bulan tuh tambah," kata Muhammad Nor, Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan pada Juli, titik panas paling banyak ditemukan di Kecamatan Tapin Selatan dengan 328 titik, disusul Kecamatan Lokpaikat sebanyak 238 titik. Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan sebagian besar titik panas berada di kawasan pertambangan, sementara sisanya ditemukan di area semak belukar.
BPBD Kabupaten Tapin mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pasalnya, kondisi cuaca yang panas dan kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga diperlukan kewaspadaan dan partisipasi masyarakat untuk mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas.









