TVRINews, Kalimantan Selatan
Fenomena El Niño, yang ditandai pemanasan suhu permukaan laut di atas kondisi normal di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur, semakin memperparah kondisi kemarau, termasuk di Kalimantan Selatan. Meski demikian, upaya menjaga ketahanan pangan terus dilakukan dengan memaksimalkan lahan rawa dan cetak sawah baru.
Kalimantan Selatan menjadi salah satu daerah dengan penugasan khusus untuk mendukung ketahanan pangan, bersama Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Sumatera Selatan. Program produksi pangan terus didorong agar berjalan optimal di tengah kondisi El Niño dan kemarau ekstrem.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan optimisme ketahanan pangan tetap terjaga meski menghadapi El Niño dan kemarau ekstrem. Namun, target produksi tetap perlu dikalkulasi kembali.
"Hasil panen Kalsel sebelum musim kemarau ini, produksi kita sudah mencapai 1,2 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 600 ribu ton. Artinya, secara teknis, kita punya cadangan yang cukup. Saat ini, Kementerian Koordinator Bidang Pangan sedang menghitung kembali potensi ketahanan pangan kita," jelas Hanif saat diwawancarai pada Jumat, 18 September 2026.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, saat menghadiri Gerakan Pangan Murah yang dilaksanakan TVRI Kalimantan Selatan, menegaskan Kalsel termasuk provinsi dengan hasil evaluasi terbaik dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dalam program cetak sawah baru.
Pada 2026, cetak sawah baru di Kalsel ditargetkan mencapai 15 ribu hektare, dengan asumsi produksi lima ton per hektare dan dapat dilakukan minimal dua kali tanam. Dengan produksi yang baik, ketahanan pangan diharapkan terwujud sekaligus menjaga kestabilan harga pasar sehingga tidak berdampak pada kenaikan harga dan inflasi.
"Untuk penugasan ketahanan pangan, terutama cetak sawah, capaian kita hari ini yang terbaik berdasarkan hasil BPK, sekitar 15.000 hektare. Kalau setiap hektare menghasilkan rata-rata 5 ton, berarti ada tambahan sekitar 750.000 ton produksi untuk Kalimantan Selatan. Memang, luas lahan kita paling kecil dibandingkan provinsi lain. Tapi kita bisa meningkatkan produksi dengan mendorong petani menanam hingga tiga kali dalam setahun," terang Syamsir.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan, Haris Munandar, menegaskan Bank Indonesia (BI) mendukung upaya stabilisasi pangan melalui optimalisasi produksi pertanian di Kalsel.
Sebagai bagian dari Tim Pengendalian Inflasi, BI sesuai arahan Presiden memastikan stabilitas harga dan pasokan tetap terjaga, mengingat pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus dikawal dengan baik.
"Secara nasional, sesuai arahan Bapak Presiden, kita punya Tim Pengendali Inflasi Pusat. Inflasi ini sangat berkaitan dengan harga pangan, sehingga ini yang kita jaga betul. Kita punya tantangan yang tidak sederhana, karena masyarakat tersebar di ribuan pulau. Artinya, logistik dan distribusi harus terus kita tangani. Kita berusaha menjadi fasilitator agar pengendalian inflasi bisa berjalan dengan baik," ucap Haris.
Ketahanan pangan Kalsel melalui optimalisasi produksi juga menjadi penyangga kebutuhan provinsi tetangga, seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Saat ini, Kalsel memiliki sejumlah daerah andalan produksi, yakni Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, dan Tapin, serta Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, dan Hulu Sungai Selatan.










