TVRINews, Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan (Kalsel) terus memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional dalam mendukung target swasembada pangan yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Salah satu upaya strategis dilakukan melalui optimalisasi lahan rawa dengan dukungan Sistem Polder Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Berdasarkan data Bulog, target produksi gabah nasional pada 2026 ditetapkan sebesar 34 hingga 35 juta ton setara beras. Kalimantan Selatan menjadi salah satu daerah yang diandalkan untuk mencapai target tersebut setelah mencatat produksi 1.179.338 ton gabah kering giling pada 2025 dan menargetkan peningkatan menjadi 1,3 juta ton pada 2026.
Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan, Zainul Arifin, mengatakan sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menopang perekonomian daerah sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, Kalimantan Selatan merupakan provinsi dengan produksi padi tertinggi di Pulau Kalimantan dengan kontribusi mencapai 45,71 persen terhadap total produksi regional. Sektor pertanian juga memberikan kontribusi sebesar 11,95 persen terhadap struktur ekonomi Kalimantan Selatan sepanjang 2025.
"Produksi di bidang pertanian memang sangat diperlukan. Terbukti pada 2025, melalui gerakan yang cukup masif, Indonesia berhasil mendeklarasikan swasembada pangan, termasuk Kalimantan Selatan di dalamnya," ujar Zainul, Sabtu, 25 Juli 2026.
Salah satu daerah yang menjadi tulang punggung produksi pangan adalah Kabupaten Hulu Sungai Utara. Wilayah ini didominasi kawasan rawa yang mencapai sekitar 89 persen dari total luas wilayah atau sekitar 892,7 kilometer persegi, sehingga pengelolaan tata air menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
Keberadaan Sistem Polder Alabio yang telah dibangun sejak masa kolonial Belanda kini menjadi andalan petani untuk meningkatkan indeks pertanaman hingga tiga kali dalam setahun (IP 300).
Wakil Bupati Hulu Sungai Utara, Hero Setiawan, mengungkapkan luas tanam padi di daerahnya mengalami peningkatan signifikan pada 2025.
"Jika pada 2024 luas tanam mencapai hampir 12 ribu hektare, maka pada 2025 meningkat menjadi lebih dari 17.600 hektare. Produktivitas juga naik dari 5,2 ton per hektare menjadi 5,4 ton per hektare," kata Hero.
Peningkatan tersebut turut dirasakan para petani. Teguh, salah seorang petani di kawasan Polder Alabio, mengatakan sistem pengairan yang baik memungkinkan petani menanam padi hingga tiga kali dalam setahun.
"Tanpa Polder Alabio kami hanya bisa menanam sekali saat musim hujan. Dengan adanya polder, kami bisa menanam dua sampai tiga kali dalam setahun karena pengairan lebih mudah dan kondisi tanah lebih baik," ucap Teguh.
Selain mengoptimalkan sistem pengairan, penguatan sektor pertanian di Kalimantan Selatan juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia melalui berbagai program ketahanan pangan. Salah satunya adalah pengembangan model padi apung yang diterapkan di Kabupaten Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, dan Tabalong.
Sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan pemerintah pusat semakin diperkuat setelah Kementerian Koordinator Bidang Pangan menetapkan Kalimantan Selatan bersama Kalimantan Tengah sebagai wilayah penugasan khusus untuk optimalisasi produksi pangan di Pulau Kalimantan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menilai Kalimantan Selatan memiliki posisi strategis sebagai penyangga kebutuhan beras di regional Kalimantan.
"Dengan produksi padi mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, Kalimantan Selatan menjadi salah satu penyangga utama kebutuhan beras di Kalimantan. Potensi ini menjadikan Kalimantan Selatan sebagai salah satu target pembangunan kawasan swasembada pangan nasional," tutur Hanif.
Di sisi lain, keberhasilan sektor pertanian turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Berdasarkan data Bank Indonesia, perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan I 2026 tumbuh 5,67 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Optimalisasi lahan rawa melalui Polder Alabio, peningkatan luas tanam, serta sinergi berbagai pihak diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan Kalimantan Selatan sekaligus menjadi model pengembangan swasembada pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan alih fungsi lahan.









