TVRINews, Banjarbaru
Isu penyebaran Hantavirus menjadi perhatian masyarakat Indonesia setelah Kementerian Kesehatan RI mencatat 23 kasus terkonfirmasi dengan tiga kematian hingga Mei 2026. Meski demikian, Kalimantan Selatan dipastikan masih aman dari temuan kasus virus yang ditularkan melalui tikus tersebut.
Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Banjarmasin menyatakan belum menerima laporan kasus Hantavirus di wilayah Kalimantan Selatan. Untuk mencegah penyebaran virus, pengawasan di seluruh pintu masuk wilayah melalui jalur udara dan laut terus diperketat.
Kepala BKK Kelas I Banjarmasin, Maman Sudirman, menjelaskan pemeriksaan dilakukan secara administratif dan fisik terhadap pelaku perjalanan, terutama dari luar negeri.
"Tugas utama kami adalah menjamin orang yang masuk melalui bandara dan pelabuhan dalam kondisi sehat. Di bandara, kami menerapkan penggunaan thermal scanner untuk mendeteksi suhu tubuh. Sementara di pelabuhan, petugas kami langsung mendatangi kapal untuk mengecek suhu tubuh seluruh kru kapal yang masuk ke wilayah Kalsel," jelas Maman Sudirman saat dikonfirmasi, Senin, 11 Mei 2026.
Selain pemeriksaan fisik, penumpang internasional juga diwajibkan mengisi aplikasi All Indonesia. Sistem integrasi antarinstansi tersebut digunakan untuk memantau kondisi kesehatan pelaku perjalanan secara dini.
Hantavirus merupakan penyakit yang pertama kali teridentifikasi di Korea Selatan pada 1978. Di Indonesia, penelitian terkait virus ini sudah dilakukan sejak 1980, sedangkan kasus pertama tercatat pada 1991.
Penularan Hantavirus umumnya terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh tikus, seperti urine dan ludah, kotoran tikus terjangkit, serta udara yang terkontaminasi droplet dari kotoran atau urine tikus.
Selain penularan dari hewan ke manusia, otoritas kesehatan juga tetap mewaspadai kemungkinan penularan antarmanusia, tergantung jenis atau varian virus.
Masyarakat Kalimantan Selatan diimbau tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah maupun tempat kerja. Sisa makanan disarankan tidak dibiarkan terbuka agar tidak mengundang tikus masuk ke rumah.
Warga juga diminta menutup lubang yang berpotensi menjadi sarang tikus. Jika mengalami demam tinggi disertai nyeri otot setelah kontak dengan area yang banyak terdapat tikus, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.










