TVRINews, Banjarmasin
Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya dirasakan warga, tetapi juga hewan.
Dokter hewan Annang Dwijatmiko mengungkapkan, sejak September lalu, kasus ISPA hewan di kliniknya naik drastis hingga 80 persen. Bahkan, satu kasus dilaporkan meninggal dunia akibat serangan akut karena memiliki penyakit bawaan.

“Jika hewan menunjukkan kondisi yang tidak biasa, seperti semakin lemah atau nafsu makannya menurun, segera bawa ke dokter hewan atau klinik. Untuk perawatan harian, vitamin dapat diberikan secara rutin. Pastikan juga jadwal makan teratur dan air minum selalu tersedia,” jelas Annang, Rabu, 21 Oktober 2026.
Kerentanan ini turut dirasakan kucing-kucing jalanan yang tidak ada pemiliknya maupun tempat bernaung yang layak.
Ketua Komunitas Sahabat Kucing Jalanan, Sari, mengungkapkan, kucing tanpa pemilik sangat rentan mengalami sakit, terutama anak kucing dan kucing tua, karena tidak adanya tempat perlindungan yang layak. Menanggapi kondisi ini, Komunitas SKJ aktif bergerak dengan membagikan vitamin saat kegiatan street feeding. Jika ditemukan kucing jalanan dengan kondisi memburuk, tim SKJ segera mengevakuasinya ke dokter hewan.

“Kami bergerak di wilayah Banjarmasin, termasuk di titik-titik lokasi feeding. Upaya antisipasinya dengan memberikan vitamin serta menjaga kebersihan makanan dan lingkungan. Jika kondisinya sudah cukup parah, kami pasti membawanya ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat, seperti terapi nebulisasi untuk membantu pernapasannya,” ujar Sari.
Tidak hanya hewan liar, hewan peliharaan di dalam rumah pun turut terdampak. Nita, salah satu pemilik anabul, terpaksa harus memeriksakan tujuh kucingnya ke klinik akibat menderita infeksi mata serta gejala muntah akibat paparan asap karhutla.
Nita menduga gangguan tersebut berkaitan dengan paparan asap dari generator listrik (genset) dan asap dari luar rumah yang masuk ke dalam ruangan. Meski kondisi kucing-kucingnya telah membaik setelah mendapat penanganan awal, ia tetap membawa seluruh kucingnya ke klinik untuk memastikan kondisi kesehatannya.

“Awalnya, salah satu kucing saya yang masih kecil tiba-tiba muntah dan berlendir, lalu tidak lama kemudian enam kucing lainnya juga mengalami kondisi serupa. Keluhan pada tubuh mungkin belum terlalu terlihat, tetapi mata mereka sering berair dan mengalami iritasi. Setelah mendapat penanganan awal, kondisinya membaik. Namun, saya khawatir ada dampak lanjutan sehingga tetap membawa mereka ke klinik,” jelas Nita.
Para pemilik hewan maupun masyarakat diimbau untuk waspada jika hewan menunjukkan gejala lesu, enggan bergerak, hingga menurun nafsu makan.
Kepedulian warga sangat dibutuhkan untuk memantau hewan liar di jalanan agar terhindar dari ancaman bahaya ISPA.










