TVRINews, Banjarbaru
Untuk mencegah semakin parahnya krisis asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), TNI Angkatan Udara (TNI AU) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaksimalkan operasi modifikasi cuaca di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Dalam operasi kali ini, empat unit armada udara dikerahkan. Tiga pesawat jenis CASA difokuskan untuk menaburkan dry ice di wilayah Palangka Raya guna mendobrak lapisan udara yang menjebak polusi.
Komandan Lanud (Danlanud) Syamsudin Noor, Kolonel Penerbang Hilman L.P. Ambarita, mengatakan pengerahan armada udara digencarkan menyusul analisis BMKG yang mendeteksi peningkatan potensi hujan dan kondisi atmosfer yang mulai basah di sejumlah titik wilayah utara.
“Setiap hari rata-rata untuk dry ice yang kita drop kurang lebih 2,5 – 3 ton dry ice untuk kita mendinginkan lapisan yang ada di Palangka Raya,” kata Kolonel Ambarita pada Senin, 26 Oktober 2026.
Sementara itu, pilot pesawat CASA, Mayor Penerbang Candra, mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi dalam operasi tersebut adalah keterbatasan jarak pandang atau visibility dari Banjarmasin yang saat ini kurang lebih 1.000 meter sehingga mengganggu pandangan ke landasan pacu (runway).
“Buat penglihatan kita agak sedikit terganggu terhadap runway. Untuk di area sendiri tidak ada permasalahan yang berarti karena cuaca mendukung dan asap ini berhenti di ketinggian kurang lebih 9 ribu sampai 10 ribu,” ungkap Mayor Candra.
Meski terkendala jarak pandang yang terbatas, pemetaan cuaca yang akurat membuat misi penyemaian dapat berjalan lancar.
Sinergi antara TNI AU, BMKG, BRIN, dan BNPB ini diharapkan mampu meningkatkan peluang terjadinya hujan efektif untuk mengurangi kabut asap yang menyelimuti wilayah Kalimantan serta membantu penanganan darurat asap akibat karhutla.










