TVRINews, Kalimantan Selatan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Selatan mulai berdampak terhadap ketersediaan air baku. Kondisi kekeringan membuat pasokan air untuk kebutuhan irigasi pertanian hingga operasional perusahaan air minum daerah mengalami gangguan.
Untuk menjaga ketersediaan air dalam penanganan karhutla, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III mengoptimalkan pompa pendorong serta pengelolaan sumber air dari tiga titik sumur dalam yang berada di kawasan Ring Satu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BWS Kalimantan III, Sandi Erryanto, mengatakan pengerahan pompa berkapasitas besar untuk pembasahan dan pemadaman karhutla berdampak langsung terhadap pasokan air bersih masyarakat.
Menurutnya, air yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan irigasi pertanian kini dialihkan untuk mendukung penanganan karhutla.

(Plt. Kepala BWS Kalimantan III, Sandi Erryanto. [Foto: Hesti Dwi Ameliasari/TVRI Kalsel])
"Pompa kita ini bergerak hampir 500 liter per detik, 0,5 meter kubik per detik mengambil dari saluran irigasi tentunya akan chaos. Sekarang terasa, untuk karhutla dua mesin pompa kami yang 250 liter per detik beroperasi itu di PDAM sudah nol levelnya. Semula bisa level 35, sekarang nol," ujar Sandi, dikutip Rabu, 2 September 2026.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut salah satunya disebabkan oleh tingginya kebutuhan air untuk pembasahan lahan yang terbakar. Bahkan, sejumlah sumur yang sebelumnya dimanfaatkan untuk irigasi kini diprioritaskan untuk penanganan karhutla.
"Sumur-sumur kita yang semula untuk irigasi, kita fokuskan sekarang ke karhutla. Jadi intinya semakin cepat tertangani kebakaran hutan dan cepat untuk pembasahan, saya kira lebih baik," katanya.
Namun, Sandi mengingatkan penggunaan air dari sumur dalam secara berlebihan bukan solusi jangka panjang. Eksploitasi air tanah yang terus-menerus berisiko menyebabkan penurunan muka air tanah dan mengurangi cadangan air alami.
Karena itu, BWS Kalimantan III mendorong penambahan infrastruktur penyimpan air seperti bendungan dan embung di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.
Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk menghadapi potensi kekeringan berkepanjangan. Selain menjaga ketersediaan air pada musim kemarau, bendungan dan embung juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir saat musim hujan.
BWS Kalimantan III berharap penanganan karhutla dapat dilakukan secepat mungkin sehingga kebutuhan air untuk pembasahan lahan segera berkurang. Dengan demikian, kondisi sumber air di wilayah tersebut diharapkan dapat kembali pulih dan pasokan air bersih bagi masyarakat berangsur normal.









