TVRINews, Banjarmasin
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan kembali mengidentifikasi tiga jenazah korban kecelakaan kapal KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa. Hingga Jumat, 9 Oktober 2026, total 72 dari 82 jenazah yang diterima di RS Bhayangkara Banjarmasin telah berhasil diidentifikasi.
Identifikasi terbaru ini memasuki hari ke-27 pascakecelakaan sekaligus menjadi rilis identifikasi jenazah yang kesebelas. Tiga korban yang berhasil diidentifikasi yakni Muhammad Anwaril Ma’arif (18), asal Sumatera Selatan; Mochamad Supardi (70), asal Jawa Timur; dan Supiani (45), asal Banjarmasin.
Ketiganya diidentifikasi melalui pencocokan data ciri medis, properti pribadi, serta pemeriksaan DNA. Berdasarkan catatan tim DVI, masing-masing jenazah terdaftar dengan nomor postmortem PM 055, PM 063, dan PM 070 yang telah dicocokkan dengan data antemortem dari keluarga.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Kalsel Muchammad Sofwan mengatakan proses identifikasi menghadapi kendala karena kondisi fisik jenazah mengalami perubahan. Sidik jari dan kondisi wajah sebagian korban tidak lagi dapat digunakan untuk mengenali identitas mereka.
“Kondisi jenazah pun sangat sulit diidentifikasi karena tadi dari sidik jari kemudian kondisi wajah tidak bisa dikenali. Namun, ada beberapa ciri medis yang menolong kita, misalnya laporan dari keluarga. Kemudian, kita juga masih menunggu beberapa hasil DNA yang diproses di Jakarta,” ujar Sofwan, Jumat, 9 Oktober 2026.
Di sisi lain, kepolisian telah menetapkan dan menahan empat tersangka terkait kecelakaan tersebut. Mereka terdiri atas nakhoda kapal dan tiga petinggi PT Virgo Karya Shipping, mulai dari agen hingga general manager.
Sementara itu, berdasarkan data manifes, sebanyak 53 orang masih tercatat dalam pencarian. Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) oleh tim gabungan masih berlangsung melalui penyisiran wilayah laut dan pesisir di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat.
Tim DVI terus melakukan proses identifikasi terhadap jenazah yang belum teridentifikasi, sementara operasi SAR berlanjut untuk mencari korban yang masih hilang.










