TVRINews, Banjarmasin
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mencapai 1.722 kasus hingga minggu ke-31 tahun 2026. Peningkatan kasus terjadi seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data mingguan Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, kasus ISPA mulai meningkat sejak minggu ke-28. Pada minggu ke-30 tercatat 1.632 kasus, kemudian bertambah menjadi 1.722 kasus pada minggu ke-31.
Kasus terbanyak tercatat di sejumlah puskesmas di wilayah Banjarmasin Selatan. Puskesmas Pekauman mencatat 139 kasus, disusul Puskesmas Cempaka sebanyak 136 kasus dan Puskesmas Beruntung Raya sebanyak 133 kasus.
Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin memastikan ketersediaan obat di puskesmas untuk mengantisipasi peningkatan kasus ISPA.
“Kasus ISPA tertinggi tercatat di Puskesmas Pekauman sebanyak 139 kasus, disusul Puskesmas Cempaka 136 kasus dan Puskesmas Beruntung Raya 133 kasus. Sementara itu, ketersediaan obat di puskesmas dipastikan aman untuk mengantisipasi peningkatan kasus ISPA,” jelas Yanuar Diansyah, Kadis Kesehatan Kota Banjarmasin pada Senin, 24 Agustus 2026.
Sementara itu, Puskesmas Cempaka mencatat 63 kasus ISPA pada kelompok balita dan tiga kasus pneumonia sepanjang Juli. Data tersebut tidak hanya berasal dari warga setempat, tetapi juga warga luar kota yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Untuk wilayah, jumlah kasus tidak bisa menjadi patokan. Pada Juli, tercatat 63 kasus ISPA pada balita, sementara kasus pneumonia sebanyak tiga orang,” ungkap Masniah, Petugas P2 ISPA Puskesmas Cempaka.
Mengantisipasi peningkatan kasus ISPA, Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Kesehatan menyiapkan 20 ribu hingga 25 ribu lembar masker bagi kelompok masyarakat yang rentan terdampak kabut asap.
Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan masyarakat di tengah kondisi kualitas udara yang terdampak kabut asap karhutla.










