TVRINews, Banjarbaru
Kondisi Waduk Riam Kanan di Kalimantan Selatan semakin mengkhawatirkan. Di tengah musim kemarau dan belum adanya curah hujan, permukaan air waduk terus menyusut. Berdasarkan pemantauan terbaru, ketinggian air Waduk Riam Kanan berada di level 54,26 meter. Kondisi tersebut menunjukkan stok air waduk semakin minim.
Sementara itu, air tetap harus dikeluarkan dari waduk setiap hari. Di sisi lain, tidak ada pasokan air yang masuk karena belum terjadi hujan, termasuk melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, meminta kondisi tersebut menjadi perhatian serius semua pihak, terutama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan.
Menurut Hanif, sumber air yang tersedia saat ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk penanganan karhutla sebelum persediaan air semakin menipis.
Hanif memperkirakan, jika tren penyusutan air terus terjadi, ketinggian air Waduk Riam Kanan pada November mendatang dapat mencapai sekitar 52 meter.
“Selama sekitar 100 hari hingga November, air diperkirakan turun 2,5 meter. Pada November, kondisinya benar-benar kritis. Karena itu, kami mengimbau Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Pemerintah Kota Banjarmasin, dan Pemerintah Kota Banjarbaru untuk segera memadamkan api selagi logistik air masih tersedia. Jangan sampai nanti api tidak bisa dipadamkan karena air sudah tidak ada,” kata Hanif pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Hanif juga mengatakan pelaksanaan OMC saat ini belum dapat dilakukan. Operasi tersebut sangat bergantung pada keberadaan titik air di awan.
Sementara itu, potensi kandungan air di awan di wilayah Kalimantan Selatan hingga saat ini masih nihil.
Kondisi Waduk Riam Kanan yang terus menyusut menjadi peringatan bagi pemerintah dan seluruh pihak untuk mengoptimalkan penggunaan sumber air yang tersedia, terutama dalam menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau.










