TVRINews, Banjarmasin
Kalimantan Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu daerah strategis penopang ketahanan pangan nasional. Kendati demikian, hantaman musim kemarau ekstrem pada tahun 2026 ini menjadi tantangan berat bagi keberlanjutan produksi sektor pertanian.
Keterbatasan ketersediaan air berpotensi memperluas cakupan lahan persawahan yang terdampak kekeringan, sehingga menuntut langkah antisipatif yang komprehensif melalui pengaturan pola tanam, pengelolaan tata air, serta pemanfaatan lahan secara optimal.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan bahkan tercatat mengalami hari tanpa hujan hingga lebih dari 60 hari.
Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko kekeringan ekstrem, terutama di beberapa daerah sentra penghasil padi utama seperti Kabupaten Tanah Laut, Barito Kuala, dan Kabupaten Banjar. Jika cuaca panas ini terus berlanjut, luas lahan pertanian yang terdampak dikhawatirkan akan terus bertambah.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Ahmad Rizali Saidy, menjelaskan bahwa situasi krisis air ini menuntut para petani untuk jeli menyesuaikan waktu tanam, memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, serta menerapkan sistem manajemen tata air yang efektif.
Di sisi lain, surutnya genangan air di lahan rawa lebak sebenarnya dapat menjadi peluang tersendiri bagi petani untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya terendam. Namun, pemanfaatan lahan tersebut harus dilakukan secara cermat dengan memerhatikan kondisi air, karakteristik tanah, serta waktu tanam yang tepat guna menekan risiko gagal panen.

(Foto: Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Ahmad Rizali Saidy)
"Produksi pangan di Kalimantan Selatan masih dalam kondisi yang cukup baik, dan saya kira kita masih dalam kondisi yang surplus. Mungkin yang menarik, data dari BPS itu produksi pangan itu hampir mencapai 1,2 juta ton, nah sementara kebutuhan Kalsel itu hanya berada di angka kisaran 600 ribu ton, sehingga masih ada surplus sekitar 600 ribu ton. Meskipun secara tingkat provinsi kita sudah surplus ya, tetapi di beberapa daerah seperti di Tanah Laut kemudian Barito Kuala ini karena beberapa lahan pertaniannya ini tidak bisa dipanen karena terlalu kering, ini yang harus kita perhatikan," ungkap Ahmad Rizali kepada tvrinews.com, Kamis, 22 Oktober 2026.
Di tengah berbagai tantangan cuaca ekstrem dan musim kemarau panjang, perhatian serta sinergi dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas produksi pangan daerah.
Melalui langkah antisipasi dan adaptasi teknologi pertanian yang tepat sasaran, Kalimantan Selatan diharapkan tetap mampu mempertahankan produktivitas sektor pertaniannya, mengamankan ketersediaan pangan lokal, serta terus konsisten berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan nasional.










