TVRINews, Kabupaten Banjar
Puncak musim kemarau dan intrusi air laut pada intake air baku yang terjadi beberapa hari terakhir menjadi tantangan PT Air Minum (PAM) Bandarmasih dalam menjaga pelayanan air bersih.
Dengan menurunnya debit sungai dan intrusi air laut yang masuk ke Sungai Bilu menyebabkan tingginya kadar klorida pada air baku yang berdampak pada distribusi air ke sekitar 198 ribu pelanggan dan masyarakat Banjarmasin.
Direktur utama PT Air Minum Bandarmasih, Zulbadi mengatakan dari data PAM Bandarmasih per 11 Agustus 2026 telah menunjukkan kadar klorida di intake Sungai Bilu pukul 11.00 WITA mencapai 2.470 miligram per liter dan turun menjadi 1.322 miligram per liter pada pukul 15.00 WITA. Namun menurutnya, kondisi ini masih jauh di atas batas rekomendasi 300 miligram per liter.
Dengan kondisi yang ada ini membuat intake air baku di Sungai Bilu dihentikan sementara dan distribusi air di sejumlah wilayah turun 10 hingga 40 persen.
“Kadar garam di air baku kit aitu meningkat sangat tinggi dari ketentuan yang ditetapkan sesuai dengan permenkes tapi kondisi air baku kita saat ini sudah 2.470 miligram per liter artinya melebihi dari ambang batas yang ditetapkan sehingga menyebabkan turunnya kapasitas yang kita produksi dan berdampak pada distribusi air,” jelas Zulbadi saat ditemui pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Zulbadi menambahkan untuk kondisi saat ini PAM Bandarmasih sangat bergantung pada faktor alam.
Jika hujan turun dan debit sungai meningkat air laut diharapkan terdorong kembali ke laut sehingga kadar garam menurun.
Sementara itu untuk membantu pelanggan terdampak PAM Bandarmasih menyiapkan distribusi air melalui mobil tangki.
Dengan mengajukan permintaan air dan akan dilayani sesuai ketersediaan armada PAM Bandarmasih juga mengimbau masyarakat bijak dalam menggunakan air serta menyiapkan tempat penampungan di rumah.
Saat ini pemantauan kadar klorida dan kondisi air baku terus dilakukan sambil menunggu hujan dan debit sungai kembali normal.










