TVRINews, Kalimantan Selatan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan yang terjadi selama lebih dari dua bulan tak hanya mengganggu kesehatan dan aktivitas warga, tetapi turut berdampak pada sektor pariwisata.
Turunnya kualitas udara akibat kabut asap membuat minat wisatawan untuk melakukan aktivitas di destinasi wisata alam menurun. Kondisi ini turut berdampak pada pelaku usaha penyedia perlengkapan dan akomodasi wisata outdoor.
Salah satu pemilik toko perlengkapan outdoor, Suci Sholeha, mengatakan minat wisatawan untuk melakukan pendakian menurun drastis sejak karhutla melanda. Penurunan paling terasa pada Agustus dibandingkan tahun sebelumnya, yang berdampak pada omzet usaha hingga 50 persen.
"Jujur cukup terdampak, Mbak. Biasanya banyak pendaki yang hiking pagi hari, tetapi karena kabut tebal, mereka memilih menunda perjalanan. Otomatis omzet kami juga turun. Sejak Agustus ini turun sekitar 40–50 persen. Padahal Juli masih aman karena libur sekolah dan ramai. Bahkan saat Agustusan dan ada tanggal merah yang berdekatan, kondisinya justru sepi" ungkap Suci saat diwawancarai pada Selasa, 8 September 2026.
Dampak karhutla juga dirasakan penyedia jasa penyewaan kapal atau klotok untuk susur sungai serta pedagang di kawasan Siring Banjarmasin.

Terganggunya penerbangan menuju Banjarmasin menyebabkan kunjungan wisatawan dari luar kota menurun drastis dan berdampak pada penghasilan pelaku usaha. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut menambah beban usaha mereka.
Para pelaku usaha berharap karhutla segera teratasi agar aktivitas pariwisata kembali normal dan jumlah wisatawan meningkat. Pulihnya kondisi lingkungan serta kembali amannya wisata alam diharapkan dapat menggerakkan kembali roda perekonomian masyarakat.










