TVRINews, Banjarbaru
Produksi padi di Kelurahan Palam, Banjarbaru, Kalimantan Selatan mengalami penurunan drastis dibandingkan periode sebelumnya. Dari satu hektare lahan, petani yang biasanya mampu menghasilkan hingga 500 kilogram padi, kini diperkirakan hanya memperoleh sekitar 210 kilogram.
Penurunan produksi tersebut dipicu serangan penyakit tungro dan blas yang diperparah kondisi kekeringan ekstrem. Kondisi itu semakin berat akibat pola tanam yang tidak serentak serta minimnya pasokan air karena program pompanisasi yang belum terealisasi. Petani juga mengeluhkan pergantian penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang dinilai kurang memahami karakteristik lahan sawah setempat.
Salah seorang petani, Yansah, mengatakan hasil panen tahun ini diperkirakan turun hingga 70 persen dibandingkan 2024 dan 2025. Menurutnya, penurunan produksi dipicu serangan penyakit tanaman dan cuaca ekstrem yang menyebabkan kekeringan.

“Yang jelas, hasil panen petani di Kelurahan Palam tahun ini menurun drastis, mungkin sekitar 70 persen dibandingkan 2024 dan 2025. Penyebab utamanya serangan tungro atau blas. Selain itu, faktor cuaca ekstrem juga menyebabkan kekeringan. Jadi, tanaman sudah terserang penyakit, kemudian mengalami kekeringan. Dampaknya berlipat,” ujar Yansah, Kamis 8 Oktober 2026.
Kondisi serupa dirasakan petani lainnya. Dari lahan seluas empat borong, hampir setengah borong tanaman padi terserang hama dan penyakit. Petani memperkirakan hasil panen hanya sekitar 30 blek atau 330 kilogram, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 56 blek.
“Untuk tahun ini, perkiraan hasil panen dari empat borong paling sekitar 30 blek,” kata Anang.
Serangan hama dan penyakit yang tidak merata menyebabkan waktu panen petani berbeda-beda. Mereka pun harus menghadapi hasil produksi yang jauh lebih rendah dibandingkan musim sebelumnya.










