TVRINews, tanah Bumbu
Sebanyak 40 desa di Kabupaten Tanah Bumbu hingga kini masih masuk kategori blank spot atau belum terjangkau jaringan komunikasi. Pemerintah daerah pun terus mendorong pemerintah pusat agar persoalan keterbatasan akses digital tersebut segera ditangani.
Kondisi blank spot itu tersebar dalam beberapa klasifikasi wilayah. Sebanyak 22 desa masuk zona P3, yakni wilayah pinggiran yang berjarak lebih dari tiga kilometer hingga mencapai lima sampai sepuluh kilometer dari menara BTS.
Kemudian, 14 desa masuk zona P2 dengan jarak sekitar satu hingga tiga kilometer dari menara BTS. Sementara empat desa lainnya berada di zona P1 atau radius nol hingga satu kilometer dari menara, namun kualitas sinyal masih tergolong lemah.
Dari total 152 desa di Kabupaten Tanah Bumbu, sekitar 22 desa atau 14 persen masih mengalami keterbatasan jaringan komunikasi.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Statistik Persandian Tanah Bumbu, Al Husein Mardani, mengatakan belum meratanya pembangunan jaringan dipengaruhi pertimbangan bisnis dari penyedia layanan serta faktor geografis wilayah.
Menurutnya, pemerintah daerah terus mengusulkan penambahan infrastruktur telekomunikasi untuk memperluas jangkauan jaringan di daerah blank spot.
“Dalam kurun waktu 2021 hingga 2025, telah ditambahkan sembilan titik baru, sehingga total BTS di wilayah ini mencapai 221 unit,” ujar Al Husein, Selasa (26/5/2026).
Selain mendorong pembangunan BTS, pemerintah daerah juga menyiapkan solusi alternatif dengan menyediakan akses internet di kantor desa.
“Saat ini sudah 130 desa yang kami fasilitasi kebutuhan internetnya, khususnya di kantor desa, termasuk menggunakan layanan satelit internet. Harapannya, masyarakat sekitar dapat memanfaatkan akses internet gratis tersebut dengan datang ke kantor desa,” jelasnya.
Melalui fasilitas tersebut, pemerintah berharap masyarakat tetap dapat mengakses layanan digital dan pelayanan publik meski jaringan komunikasi di sejumlah wilayah masih terbatas.










